Jumat, 01 November 2013

Gaji dan Upah

Setiap akhir pekan biasanya saya pulang ke rumah dengan naik bus. Dan hari minggu saya kembali lagi ke kost untuk persiapan kuliah hari senin dan seterusnya. Saya hanya naik bus kecil yang terlihat tua dan reot seperti jarang dirawat atau efek dipakai ugal-ugalan oleh supir bus sehingga ada beberapa bagian hancur. Di dalam bus menuju daerah saya kuliah. Saya duduk dengan seorang perempuan dari usianya sekitar 24tahun.

Saya membuka pembicaraan dengannya mengenai tarif bus. Dan kami mulai berbincang-bincang, dia menanyakan apa profesi saya. Saya menjawab saya masih kuliah. Dan mba itu mulai menceritakan dirinya. Dia mengaku pernah bekerja di luar negeri tepatnya di Taiwan. Tanpa saya tanya gajinya,dia bercerita di Taiwan gajinya sebesar Rp 4,5juta perbulan namun itu masih dipotong oleh agen. Saat saya mendengar angka itu,bagi saya untuk tamatan SMA itu sangat besar. Seorang dosen saja,harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapat gaji sebesar itu.

Dan dia berkomentar," Kalau di Indonesia gaji tamatan SMA dapetnya sedikit mba. Cari kerjanya juga susah,yang lulusan Sarjana saja belum tentu dapet kerja. Persaingan kerjanya sulit,gajinya juga sedikit". Sejujurnya kalimat itu membuat saya sedikit sakit hati. Tapi memang kenyataannya begitu,saya hanya tersenyum mendengarnya. Dan mba itu bercerita lagi,tentang temannya yang bekerja di korea sebagai buruh. Dia bercerita bahwa temannya gajinya lebih besar yaitu Rp 10juta. Dan itu membuat saya lebih tercengang. Dosen yang sudah bersertifikasi saja belum sampai ke angka sefantastis itu.

Saya penasaran memangnya mba ini kerja apa. Ternyata hanya menjadi babysitter, dibandingkan dengan di Indonesia tentu saja berbeda. Saya menanyakan hal ini kepada Ibu saya, Ibu saya bilang buruh di Indonesia memang kurang dihargai kerjanya. Dan hal ini membuat saya merenung kalau saya sudah lulus kulia,misal gaji saya di bawah gaji TKW. Apa mungkin saya harus menjadi TKW juga untuk mendapat gaji yang besar?

Tentunya ada perasaan iri,saya yang kuliah mendapat gaji hanya sedikit. Jika dipikirkan dari hal materi, iya memang itu kurang. Gaji dosen yang sudah sertifikasi saja belum mencapai angka Rp 10 juta. Bagaimana nantinya saya yang baru lulus kuliah? Dan saya memahami,bahwa ilmu yang saya peroleh tidak diukur lewat materi. Karena ketika seseorang mengejar materi tentunya tidak ada selesainya,pasti ingin menambah lagi dan lagi. Dan nafsu rakus akan menjalar diseluruh tubuh, sehingga timbul berbagai macam kecurangan untuk memenuhi hawa nafsunya. Seperti kasus yang sedang marak di Indonesia,yaitu korupsi,penipuan dan lain-lain. Karena niatnya hanya untuk kebutuhan materi, tanpa niat untuk mencari berkah dari Yang Maha Kuasa atau niatnya agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain tidak ada.

Renungan lagi untuk saya,kebanyakan orang bekerja dengan melihat berapa gaji yang ia peroleh. Terkadang itu muncul di benak saya. Tak dapat dipungkiri saya sendiri yang masih kuliah sering berangan-angan gaji tinggi yang saya dapatkan ketika saya bekerja nanti. Namun,niat seperti itu hanya akan membutakan saya terhadap materi. Tetapi bukan berarti para pemberi gaji memberikan gaji yang semena-mena terhadap pegawainya atau buruhnya. Karena seharusnya juga ada taraf kelayakan,karena pegawai dan buruh juga manusia. Mereka bukan budak,mereka punya hak untuk hidup layak. Dan taraf kelayakan tersebut tidak ditentukan semena-mena oleh pengusaha. Setidaknya dengan melihat harga kebutuhan pokok dan tanggungan orang tersebut.

Saya harap setiap orang di dunia ini dapat mebuka mata hatinya untuk saling menghargai sesama manusia atau memanusiakan manusia. Tidak ada kesemena-menaan antara satu dengan yang lain. Dan kesuksesan tidak diukur dari materi,tapi dari sudut pandang yang lain. Misal ilmu yang dibagikan bermanfaat minimal untuk dirinya sendiri dan terlebih untuk orang lain. 

Masalah buruh yang berdemo di Jakarta dapat diselesaikan, bila para "petinggi" dapat membuka pintu hatinya. Setidaknya Rp 2,4 juta itu dinilai terlebih dahulu apakah itu dapat mencukupi kebutuhan buruh. Dan dilihat dari inflasi sekarang, apakah Rp 2,4 masih bisa mencukupi kebutuhan pokok mereka?. Dan setidaknya buruh yang mempunyai hasil sampingan seharusnya bisa bersikap bersahaja,karena ada beberapa buruh ketika berdemo membawa barang yang dinilai mewah. Sehingga pandangan orang menjadi berbeda ketika meliha hal itu. Buruh yang memakai barang-barang mewah terlihat seperti hanya menunggangi kepentingan buruh yang benar-benar membutuhkan kelayakan hidup. 

Tapi bukan berarti mereka yang punya hasil sampingan tidak boleh memiliki barang mewah. Itu memang hak mereka untuk punya. Setidaknya ketika melihat teman-temannya yang sedang berjuang menuntut apa yang harusnya ia peroleh, barang-barang tersebut tidak dipakai terlebih dahulu. Karena hal itu membuat orang berpandangan bahwa upah segitu saja sudah bisa beli barang kebutuhan tersier,untuk apa dinaikan lagi?. Tapi ini juga tidak mengajarkan mereka untuk berpura-pura,namun tetap jujur bahwa ia memang "punya". 
Setiap orang punya pendapatnya masing-masing termasuk saya :D





Rabu, 14 Agustus 2013

Ingin Good Looking Tapi "Maksa"

Ingin Good Looking tapi maksa adalah satu hal yang menurut saya unik. Misalnya banyak mahasiswa atau mahasiswi yang berdandan berlebihan padahal tidak tau bahwa itu cocok atau tidak untuk dirinya. Dan walhasil terlihat maksa. Tidak mau di bilang alay oleh orang lain dan tidak mau ketinggalan zaman. Padahal parameter alay atau ketinggalan zaman hanya di buat-buat oleh anak-anak yang di pikirannya hanya ada hedonisme.
Dan uniknya saking banyaknya jumlah mahasiswi yang ingin update baju tiap hari,di sekitar kampus saya ada yang menyediakan membeli baju dengan cara kredit. Saya mengetahui hal ini dari teman saya. Atau ada mahasiswa atau mahasiswi yang ingin terlihat keren dengan memakai smartphone. Kemana-mana autis megang smartphone mulu padahal gak tau apa yang dibuka atau chatting dengan siapa dan yang paling unik adalah setiap sebelum makan di foto dulu makanannya terus di upload ke media sosial. Menurut saya itu adalah hal yang sangat tidak penting. Yang harusnya sebelum makan berdo'a dulu malah foto-foto dulu.
Rambut di cat warna-warni kaya boy band atau girl band. Sibuk merhatiin hijab modern yang tidak sesuai syar'i dan terlihat penuh dikepala. Ada-ada saja tingkah manusia jaman sekarang yang pengin eksis badai malah ngabisin duit. Bilangnya ini kebutuhan padahal butuh cuma buat chatting gak jelas. Belum tentu buat cari ilmu atau nambah pengetahuan.
Agnes pernah bilang sesuatu yang sedang ngetrend saat ini akan menjadi kampungan di esok hari. Jadi menurut saya apa yang sedang ngetrend saat ini, jangan terlalu heboh ata

Hedonisme saat Idul Fitri

 Seperti biasanya setiap satu tahun sekali umat muslim seantero dunia merayakan hari raya Idul fitri. Namun tahun ini berbeda,dikarenakan Idul fitri tahun 2013 ini di ikuti dengan harga kenaikan bbm. Harga-harga melambung tinggi dengan tidak terkendali. Berbagai macam harga kebutuhan pokok pun melambung tinggi di atas harga sewajarnya. Harga daging pun hampir setara dengan harga emas.
 Moment bulan ramadhan dan hari raya idul fitri ini seperti di manfaatkan oleh banyak kalangan pembisnis untuk menaikkan harga atau memberikan harga potongan namun sebenarnya sebelum di beri potongan harga tersebut sudah dinaikkan.Masyarakat kelas menengah ke atas berbondong-bondong menyerbu pasar,swalayan dan tempat perbelanjaan lainnya untuk membeli barang-barang sebanyak-banyaknya. Padahal belum tentu mereka butuh.
 Seperti membeli mukena baru,baju baru, kue kue kering khas Idul fitri atau apapun itu yang sebetulnya tidak ada kewajiban untuk membeli. Dan dengan enaknya para produsen menaikkan harga untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi. Ini dikarenakan budaya masyarakat kalangan menengah ke atas yang sangat hedonis agar terlihat "wah" disaat Idul fitri dengan pakaian baru dan lain sebagainya. 
 Bagaimana pun keadaan ini menyulitkan masyarakat kalangan bawah karena banyak harga kebutuhan pokok yang tinggi tidak dapat dibeli. Dan sepertinya budaya hedonisme ini sulit untuk dihilangkan. Mirisnya pemerintah tidak dapat mengontrol harga-harga ini. Setidaknya ketika memang harga harus naik, naiknya harga barang itu terkendali dan tidak semaunya sendiri karena itu meugikan.
 Semoga saja kedepannya semua masyarakat dapat menghilangkan atau mengurangi sedikit demi sedikit budaya tersebut. Meskipun terjadi seperti hukum permintaan atau penawaran namun itu tidak mutlak karena akan banyak faktor yang memengaruhi. Dan semoga saja pemerintah dapat membantu meringankan beban masyarakat kalangan bawah.